Menristekdikti: Perguruan Tinggi Jangan Asyik Sendiri!

Jakarta | Jurnal Asia

Perguruan tinggi di Indonesia dinilai selama ini telah keasyikan mengurusi dirinya sendiri. Sehingga mereka lupa jika pada era disrupsi kali ini penting untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain, termasuk dunia industri.

“Dunia pendidikan tinggi selama ini terlalu asyik dengan dunianya sendiri,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Mohamad Nasir, Rabu (28/11).

Oleh karena itu, kata Nasir, dunia pendidikan tinggi harus segera berbenah jika tak ingin tertinggal dari negara lain. Ia mengeluhkan salah satu masalah yaitu rendahnya jumlah peneliti yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di Indonesia.

Nasir memaparkan, rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Indonesia adalah 1.000 peneliti berbanding 1 juta penduduk. Angka ini jauh lebih rendah dari negara-negara tetangga sebut saja Singapura dan Malaysia.

Di Singapura, rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Singapura adalah 9.000 peneliti per satu juta penduduk. Sedangkan Malaysia hampir 3.000 peneliti per satu juta penduduk.

Padahal, kata Nasir, jumlah perguruan tinggi di Indonesia jauh lebih banyak daripada negara-negara tersebut, yaitu sebanyak 4.600.

Bahkan jumlah perguruan tinggi yang dimiliki Indonesia tersebut dua kali lebih banyak daripada jumlah perguruan tinggi yang dimiliki Tiongkok. Padahal jumlah penduduk Indonesia hanya seperenam jumlah penduduk negara Tirai Bambu tersebut.

Nasir pun sudah mengeluarkan kebijakan untuk menggabungkan sejumlah perguruan tinggi (PT). “Sikap saya (PT-PT tersebut-Red) harus merger,” kata Nasir.

Ia juga mengkritisi banyaknya fakultas di perguruan tinggi saat ini. Padahal antara satu dengan lain fakultas tersebut sebenarnya berkaitan.

“Siapa yang akan menyangkal kalau fakultas teknik dengan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-Red) itu terkait? Begitu juga dengan ilmu-ilmu sosial seperti hukum, ekonomi dan sosial politik?” tanya Nasir.

Menurut dia, alangkah lebih baik jika fakultas-fakultas tersebut dilebur menjadi satu. Dengan demikian kampus akan lebih efisien, lebih produktif, dan lebih inovatif.

“Kita ini terbiasa melakukan segala sesuatu secara parsial. Kita harapkan jika terintegrasi akan lebih efisien,” ujar Nasir. (rep|swm)