Literasi Harus Diintegrasikan Dalam Pembelajaran

Jurnal Asia | ist
UJI COBA. Guru sedang praktik mengajar mendampingi siswa kelas VII SMP Yasporbi praktik melakukan pengukuran.

Medan – Sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan keterampilan literasi. Semua kegiatan sekolah sebaiknya diintergrasikan kedalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

“Termasuk mengintegrasikan literasi kedalam pembelajaran. Karena dalam panduan yang dirilis kemendikbud ada tiga tahapan GLS yaitu pembiasaan, pengem­bangan dan pembelajaran,” terang Erix Hutasoit, Kooordinator Hubungan Mas­ya­rakat dan Komunikasi Forum Mas­yarakat Literasi Sumatera Utara (Formalsu) di Medan, kemarin

Erix mengatakan pengintegrasian literasi dalam pembelajaran akan membentuk sikap dan keterampilan siswa dalam mengelola informasi. Selama proses pembelajaran, siswa menjadi terbiasa menjalankan prosedur saintifik.

Dimana mereka harus mencari, memahami, mengolah, menyimpulkan dan mengkomunikasikan ulang informasi yang diperoleh. “Literasi dapat diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Kuncinya ada pada guru. Karena itu guru harus dilatih agar mampu dan yang paling penting, harus dipraktikan setelah dilatih,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Pendidikan Sampoerna University Jakarta, Nisa Felicia PhD. Pelatihan guru akan berdampak jika dipraktikkan di dalam kelas.

“Ketika dipraktikkkan dalam pengajaran di kelas, hal ini akan mendukung siswa untuk melatih kemampuan berpikir kreatif, kritis, serta memecahkan masalah,” jelasnya.

Lebih lanjut Nisa mengatakan Sampoerna University senantiasa membekali guru mitranya agar mampu menerapkan pem­belajaran aktif, menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan mampu mengembangkan kemampuan literasi siswa.

Baru-baru ini 100 guru sekolah mitra Fakultas Pendidikan Sampoerna University dilatih oleh USAID Priortas untuk mengimpelementasikan hasil pelatihan praktik yang baik dalam pembelajaran dan budaya baca.

Respon positif datang dari guru-guru yang dilatih. Salah satunya dari Nur Intan Kumalasari, guru SD Insan Cendekia Madani. Dalam praktik mengajar, Nur Intan membuat buku besar yang berjudul ‘Hidup Rukun di Sekolah’.

Buku besar tersebut berisi 11 halaman yang menceritakan persahabatan dua siswa di sekolah. Setiap halamannya berisi gambar dan satu sampai dua kalimat yang relevan dengan gambar.

Intan mengajak siswanya membaca bersama dan memahami isi bacaan dengan buku besar tersebut. Penggunaan media buku besar, membuat siswa semakin antusias membaca bersama di kelas.

“Dari praktik mengajar ini saya men­dapat­kan pengalaman cara meningkatkan kemam­puan literasi siswa melalui pembelajaran. Kepercayaan diri siswa untuk membaca, menulis dan menyampaikan hasil karyanya juga meningkat,” kata Intan usai praktik mengajar.

Wakil Direktur Program USAID Priortas, Feiny Sentosa, mengatakan pelatihan yang mereka desain memberikan kesempatan kepada guru untuk memahami kurikulum 2013, mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi dan lembar kerja, melakukan penilaian autentik, menerapkan literasi lintas kurikulum dalam pembelajaran di kelas awal, IPA, dan matematika.

Kemampuan literasi yang dimaksud seperti membaca atau memahami isi bacaan, mendengarkan, menyimak, memahami apa yang diungkapkan orang lain, termasuk mengungkapkan gagasan secara lisan atau tertulis, sangat diperlukan dan sekaligus dapat dikembangkan dalam pembelajaran di kelas.

Disebutkannya peserta telah diberi kesempatan membuat perencanaan pembelajaran yang memuat konten pelatihan. Hari mereka menerapkannya dalam kegiatan praktik mengajar di kelas.

“ Setelah praktik mengajar, mereka akan berefleksi bersama fasilitator untuk melihat pembelajaran yang berhasil dan yang perlu diperbaiki agar kualitas pembelajaran menjadi lebih baik lagi,” kata Feiny.

Mengacu pada studi “Most Littered Nation in The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, Indonesia menduduki posisi yang rendah dalam hal minat membaca.

Hal ini patut mendapat perhatian mengingat kebiasaan membaca me­ru­pakan salah satu modal utama dalam mengem­bangkan kemampuan berpikir individu.

Melalui Program ini, para guru yang mendapatkan pelatihan diharapkan dapat mendiseminasi hasil pelatihan kepada lebih banyak guru lainnya, dan menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga memberikan manfaat dalam peningkatan kualitas belajar siswa di sekolah dan di luar sekolah.

(rel)