Kemenristekdikti Genjot Riset Internasional

Jakarta | Jurnal Asia
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menggenjot kualitas riset pendidikan tinggi di Indonesia. Upaya meningkatkan riset tersebut dilakukan dalam sejumlah cara seperti tidak bergantung kepada anggaran pendanaan riset dari pemerintah yang hanya 0.08 persen dari GDP Indonesia.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan pemerintah juga melibatkan industri dalam pendanaan riset.
“Risetnya yang memberikan output bermanfaat bagi industri,” kata Nasir, Selasa (15/5).
Nasir mengatakan pemerintah menggenjot kualitas riset terkait keinginan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Peningkatan tersebut agar pendidikan tinggi di Indonesia menuju kelas dunia atau World Class University.
Untuk mencapainya, ia menerangkan, Indonesia harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan standar international. Standar tersebut mengacu pada Quacquarelli Symonds (QS) rank yang dilakukan oleh lembaga riset QS yang bergerak pada bidang pendidikan.
“Memang masalah riset menjadi penting untuk menjadi World Class University. Kualitas riset, jumlah publikasi nasional dan internasional merupakan syarat mutlak harus dicapai oleh perguruan tinggi,” ucap Nasir.
Cara lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, dia menerangkan, pemerintah juga mendorong perguruan tinggi lokal berkolaborasi dengan perguruan tinggi asing melalui program Staff Mobility dan Student Mobility .
“Output-nya publikasi internasional dan ditargetkan masuk kedalam TOP 200 Journal, demi meningkatkan ranking perguruan tinggi Indonesia,” jelas Nasir.
Kemenristekdikti juga terus mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan ranking di tingkat dunia. Saat ini, ada tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk Top 500 University versi QS rank.
Ketiganya adalah Universitas Indonesia (UI) pada posisi 277, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada posisi 330, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada posisi 301. Nasir menargetkan UI mampu ke posisi 200, ITB 250, dan UGM 300.
“Tentu mereka harus kerja keras. Kemudian menyusul Unair dan IPB karena mereka saat ini sudah di angka 700. Kami akan dampingi 11 perguruan tinggi lagi,” ujar dia. (rep|swm)