Asa di Momen Hari Guru, Sudahkah Guru Honorer Diperhatikan Pemerintah?

Dewi Wulandari, S.Pd sedang melakukan proses belajar mengajar sambil berdiskusi dengan siswa. Ist

Binjai | Jurnal Asia
Guru adalah salah satu pekerjaan yang menyenangkan, ketika hari-hari para orang tua sibuk bekerja, namun para guru harus menghadapi puluhan karakter berbeda dari anak-anak yang dipercayakan kepada guru.

Guru bahagia ketika harus mengusap air mata muridnya, gembira ketika dapat melerai pertikaian mereka dan bangga ketika mereka berkata, “Oh gitu bu, iya saya paham”, dengan gaya nyeleneh khas anak-anak.

Hal yang berkesan itulah yang dialami Dewi Wulandari, S.Pd guru wali kelas II B SDN 024772 Binjai. Sosoknya yang ramah ini membuat anak didiknya sangat menyayanginya.

Hal itu terlihat saat beberapa orang siswa dari kelas berbeda menghampirinya dengan membawa sebuah bingkisan ditangannya.

“Ini untuk ibu, selamat hari guru ya bu” kata seorang anak perempuan yang dulu sempat menjadi anak didiknya tahun lalu.

Ibu Dewi biasa ia disapa oleh murid-muridnya bukanlah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) tapi saat ini statusnya masih sebagai guru honorer.

Di sekolahnya tempat ia mengajar merupakan sekolah inklusi yaitu sekolah yang menerima peserta didik dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dikelasnya saat ini ada 3 murid ABK dari 24 murid yang ada. Baginya mengajar adalah sebuah panggilan jiwa dan pengabdian.

Saat ditemui Ibu Dewi mengatakan berkumpul dengan anak-anak adalah suatu kesenangan yang tak bisa didapat dari profesi manapun. Ditambah lagi ia harus memberikan pola belajar yang berbeda kepada 3 muridnya yang menurutnya spesial merupakan tantangan yang harus ia jawab.

“Buat saya mengajar anak-anak ABK yang spesial ini bukanlah beban, tapi tantangan yang harus saya jawab. Sebuah kepauasan dan kesenangan ketika melihat anak-anak spesial itu bisa percaya diri, mampu mengikuti pola belajar dan bisa bersosialisai dengan anak lainnya serta melihat orang tua mereka tersenyum dengan perubahan positif anaknya merupakan hal yang tak bisa diungkapkan.” Ujarnya.

Ia berpesan kepada anak didiknya, “Kami tidak membutuhkan penghormatan, Nak. Menyentuh pikiranmu dengan kasih sayang akan terasa lebih mudah dan membahagiakan untukmu. Kami hanya ingin engkau menjadi manusia yang bijaksana ketika menggunakan kecerdasan kalian. Bersihkan hati agar kau mau menerima ilmu yang kami berikan dengan ikhlas,” pesannya.

Tapi yang menjadi pertanyaan, sudahkah guru-guru honorer diperhatikan pemerintah? Menjawab ini, ia hanya berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan perhatian yang lebih kepada guru-guru yang statusnya masih honor baik kesejahteraan dan status kepagawaian.

“Mudah-mudahan pemerintah memberikan perhatian kepada kami guru-guru honor ini, setidaknya harapan kami bisa diangkat menjadi ASN sehingga dapat meninggkatkan kesejahteraan,” pungkasnya.

Dikesempatan yang sama, salah seorang wali murid Liza Tanzil orang tua dari Muhammad Barka Alzilzian Arwalembun mengatakan sosok ibu Dewi adalah sosok guru yang tangguh. Meski tergolong masih muda tapi keuletan dan semangatnya dapat menjadi inpsirasi untuk guru-guru yang lain.(wo)