Bupati Karo dan Istri Ikut Syuting Film Sang Prawira, Ini Perannya

 

Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama ibu Ny.Sariati Terkelin Brahmana perankan film “Sang Prawira” lokasi syuting di Pasar Buah Berastagi. Ist

Karo | Jurnal Asia
Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama dengan istri turut menyemarakkan film Sang Prawira, dengan berperan sebagai pedagang buah di Pasar Buah Berastagi. Jumat (2/8/2019).

Film yang disutradarai Ponty Gea, menampilkan pesan moral yang begitu kuat agar tetap optimis dan tidak gampang menyerah walau di kondisi sulit.

Film yang dibintangi sejumlah pejabat publik ini juga memperkenalkan berbagai kultur masyarakat dan destinasi wisata serta membangun rasa nasionalisme.

Bupati Karo, Terkelin Brahmana dan istri Ny. Sariati saat dikonfirmasi wartawan mengaku merasa keletihan dan nyaris bosan. Sebab adegan yang diperankannya itu dilakukan secara berulang-ulang yang memakan waktu hingga berjam-jam lamanya.

“Karena selain tidak biasa, peran yang dilakoninya waktunya sangat mepet. Secara tiba-tiba tak ada latihan dan dilakukan secara berulang-ulang, sehingga perasaan menjadi capek dan bosan,” terangnya.

Namun begitu, syuting film layar lebar ini dapat berlangsung dengan baik. Termasuk saat melakukan dialog berbahasa Inggris dengan sepasang wisatawan bule asal negeri Belanda saat berbelanja buah.

Usai syuting babak awal, tak lupa, Terkelin Brahmana bersama istri yang berperan menjual buah di kios Asido, mengajak seluruh masyarakat untuk menontonnya di bioskop-bioskop diseluruh Indonesia. Karena film ini sangat bagus ditonton untuk memotivasi dan memajukan pemuda Indonesia untuk menggapai cita-citanya.

Pantauan wartawan, dipenghujung shooting film, Bupati dan istri, serta kru film foto bersama sekaligus mengambil gambar video untuk dimuat dimedia sosial you tube. Direncanakan lanjutan pembuatan film Sang Prawira ini akan dilanjutkan pukul 16.00 WIB, dengan melibatkan peran pendukung Kapolres Tanah Karo AKBP Benny Remus Hutajulu SIK.

Dikutip dari berbagai sumber, film Sang Prawira ini menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga di mana antara isteri dan suami tidak sepaham dalam merancang masa depan anaknya ketika anaknya duduk dibangku SMA.

Si ibu, ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin.

Ide cerita film ini lahir dari para pejabat Utama Polda Sumut yang didukung oleh Wakapolda Sumut, Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto kemudian diperkaya oleh Kapoldasu, Irjen. Pol. Agus Andrianto, terutama tentang sosok seorang polisi yang berani dan tangguh. Serta ada muatan pesan moral pedagogis (strategi pembelajaran) kepada masyarakat.

Yang hebatnya lagi, lokasi syuting mengambil 130 titik dan tersebar di beberapa daerah seperti Karo, Simalungun, Tobasa, Humbahas, Asahan, Tanjung Balai, Sibolga, Nias, Medan, Semarang (Akpol) dan Jakarta (Mabes Polri).

Dan di film ini juga akan diperankan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berperan sebagai pengajar berpangkat Kombes di Akpol Semarang.(wo/herman)