Virus Corona Buat Penduduk Miskin Bertambah

Ilustrasi penduduk miskin. Ist

Medan | Jurnal Asia
Penyebaran virus corona menjadi momok yang menakutkan dan membuat ekonomi masyarakat terpukul. Banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, tempat wisata, sekolah, perguruan tinggi, pabrik dan perkantoran yang terpaksa dihentikan sebagian atau dihentikan sepenuhnya sehingga perputaran uang menjadi terhambat dan memicu angka kemiskinan.

Masyarakat miskin di perkotaan akan mengalami masalah yang lebih serius dibandingkan dengan masyarakat di pedesaan. Salah satunya kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok

Baca Juga : 8500 Ton Beras Petani Sumut Dibeli Bulog

Disisi lain, masyarakat yang menyandang kelas menengah sangat berpeluang masuk dalam garis kemiskinan, jika aktifitas ekonomi tidak mampu pulih dengan segera. Kondisi masyarakat miskin di perkotaan sangat rentan mengalami penuruan daya beli, dengan potensi peningkatan jumlah angka kemiskinan setiap harinya.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, banyak masyarakat menengah hingga menengah ke bawah di perkotaan yang bekerja di sektor informal. Saat ini saja, sekitar 20% pedagang memilih tidak berjualan.

Di sektor pendidikan, meskipun guru berstatus PNS tetap mendapatkan penghasilan. Namun, berapa banyak pedagang asongan, tukang antar jemput anak sekolah yang harus kehilangan pekerjaan karena pembatasan aktifitas masyarakat.

“Tanpa bantuan ke mereka (masyarakat miskin), saya yakin kesulitan-kesulitan baru akan muncul nantinya. Ini yang harus dipikirkan pemerintah daerah maupun pusat. Masyarakat miskin tersebut sangat rentan dengan penurunan daya beli,” katanya, Selasa (24/13/2020).

Selain itu, seiring dengan penurunan daya beli tersebut, masyarakat miskin diperkotaan juga lemah dalam memberikan perlindungan terhadap dirinya masing-masing menghadapi penyebaran Covid-19.

Di Medan, kata dia, angka kemiskinan sebesar 18%, jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Ada sekitar 460 ribu masyarakat miskin di Medan. Ia yakin angkanya meningkat saat ini, terlebih jika masa darurat covid-19 ini berlangsung sampai 3 minggu kedepan. Dan kondisi kesulitan ekonomi masyarakat akan bertambah besar jika skenario lockdown dijalankan.

Akan ada 75% hingga 80% tenaga kerja informal yang kehilangan pekerjaan, jika lockdown di berlakukan. Jika secara nasional terdapat 74 juta jiwa yang bekerja secara informal. Maka lockdown akan membuat tambahan penganguran sekitar 55,5 juta jiwa.

Baca Juga : Jumlah Pasien Positif Covid-19 Dirawat di RS Adam Malik Melonjak Jadi 8 Orang

Sementara di Sumut, pekerja sektor informalnya itu sekitar 3.87 juta jiwa. Jika ada lockdown, maka akan ada tambahan pengangguran sedikitnya 2.9 juta jiwa.

“Anjuran Work From Home (WFH) karena darurat corona saja selama sepekan terakhir sudah menghempaskan sedikitnya 30% tenaga kerja informal. Aktifitas ekonomi saat ini saja sudah membuat ekonomi terseok-seok, konon kalau seandainya di lockdown, maka ekonomi akan kolaps,” pungkasnya.(nty)