Tren Penguatan Rupiah Terhadap Dolar AS Masih Berlanjut

Medan | Jurnal Asia
Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar di perdagangan hari ini berlanjut pada tren penguatan. Rupiah terus mencoba mendekati level psikologis 14.000.

Sejauh ini, Rupiah masih diperdagangkan dikisaran 14.040 an per US dolar. Penguatan rupiah belakangan ini juga dipicu oleh membaiknya sejumlah sentiment eksternal ditambah dengan kemungkinan perubahan arah kebijakan terkait suku bunga acuan Bank Sentral AS.

Analis Pasar Modal di Sumut, Gunawan, sejauh ini, Bank sentral AS dipersepsikan tidak akan menaikkan bunga acuannya di tahun 2019. Hal ini tentunya akan memberikan angin segar bagi kinerja mata uang rupiah.

“Rupiah sangat berpeluang untuk mengalami penguatan jika The FED benar-benar tidak menaikkan bunga acuannya. Sejauh ini, alasan itu mencuat seiring dengan isu yang berkembang terkait dengan fundamental ekonomi AS, yang dinilai tidak begitu mendukung kebijakan moneter ketat lanjutan,” katanya, Kamis (10/1).

Di sisi lain, ada perang dagang yang sepertinya belum menunjukan adanya eskalasi perang itu sendiri. Sejumlah sentimen tersebut memberikan daya dorong bagi Rupiah untuk melanjutkan tren penguatan.

Secara keseluruhan penguatan Rupiah pastinya menjadi katalis positif bagi perekonomian nasional. Meskipun di sisi lain, penguatan rupiah akan merugikan eksportir.

Akan tetapi, sambungnya, ia melihatnya bahwa tren ke depan terkait dengan kinerja pasar keuangan kita akan sangat dipengaruhi oleh sisi eksternal yang kemungkinan besar masih akan terus mengalami perubahan.

Sehingga eksternal akans angat mempengaruhi nantinya. Sementara itu, sentiment ekonomi internal sebenarnya masih dalam kondisi yang cukup baik.

“Saya melihat potensi penguatan Rupiah di bawah 14 ribu memang masih berpeluang terjadi ke level 13.700 di tahun 2019 ini,” ucapnya.

Yang penting, kata dia, tidak terjadi gejolak eksternal ditambah dengan kemampuan ekonomi nasional dalam menarik minat investasi asing. Dan kita juga mengharapkan ada kinerja yang membaik dari sisi ekspor.

Terlebih apabila perang dagang tidak lagi berlanjut di tahun ini. Sementara itu, kebiajakan bunga ketat yang dilakukan oleh AS juga tidak berlanjut di tahun ini.

Daya saing dari penguatan US Dolar itu sebelumnya sudah merugikan ekonomi AS itu sendiri. Jadi sebaiknya ditinjau dari sisi bisnis yang yang lebih luas untuk meninjau kembali kebijakan moneter ketat sebelumnya.

“Dengan penguatan rupiah, kita berharap harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat bisa kembali diturunkan. Karena memang ada pengaruh kinerja Rupiah terhadap pembentukan sejumlah harga di kebutuhan masyarakat di tanah air,” pungkasnya.(net)