Sumut Tekor Berdagang dengan Sejumlah Negara

 

Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi.Netty

Medan | Jurnal Asia
Kinerja neraca perdagangan Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan I-2019 dengan sejumlah negara kurang membaik. Ini dikarenakan provinsi ini tergantung terhadap produk impor sehingga membuat tekor berdagang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi menyebutkan, defisit perdagangan terjadi dengan negara Tiongkok sebesar USD118,289. Kemudian dengan Singapura senilai USD81,179 juta, Argentina senilai USD66,600 juta dan Australia senilai USD63,585 juta.

“Ketergantungan Sumut dengan produk impor Tiongkok memang mendomonasi. Selain dengan empat negara ini, Sumut juga tekor dagang dengan Malaysia. Di mana impor Sumut dari Malaysia mencapai USD103,349 juta sedangkan ekspornya hanya USD44,851 juta,” katanya, Senin (13/5).

Menurut pengamat ekonomi Vincent Wijaya, terkait perdagangan dengan Malaysia, secara umum defisit perdagangan Sumut dengan Malaysia karena harga dan kualitas barang. Begitu juga dengan subsidi pemerintah hingga mata uang rupiah yang jauh lebih murah.

“Selain kualitas dan harga, bisa juga impor barang dari Malaysia merupakan barang yang tidak dapat di Sumut atau pun daerah lain di Indonesia,” ujarnya.

Tapi, kata Vincent, Sumut sudah harus menekan angka impor ini di periode-periode mendai. Apalagi jika ada diantara barang tersebut merupakan barang komsumsi yang pastinya langsung menyentuh end user. Tapi kalaupun impor didominasi barang modal, Sumut tetap tidak boleh mengandalkan produk-produk dari Malaysia.

Memang jika menyoal harga dan kualitas, tentu wajar jika pengusaha-nya memilih impor. Tapi melihat defisit yang cukup besar, Pemprovsu harus mencari solusi agar nilainya tidak terus naik dan semakin memperlebar defisit neraca perdagangan Sumut dengan Malaysia.(nty)