Secara Nyata, Ekonomi Sumut Tumbuh Negatif

 

Ekonomi Sumut tumbuh 5,25 persen.Netty

Medan | Jurnal Asia
Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) di triwulan II 2019 secara year on year (yoy) tumbuh 5,25 persen. Namun secara nyata, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang negatif.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, memang tidak dipungkiri pertumbuhan ekonomi Sumut melebihi nasional yakni 5,05 persen merupakan capaian yang sangat baik. Pertumbuhan sebesar itu memang diharapkan agar terus mampu terealisasi hingga di tahun-tahun yang akan datang.

Bahkan, kata dia, dengan dukungan infrastruktur yang mulai terkoneksi, ia optimis Sumut berpeluang merealisasikan angka pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Setidaknya tumbug dalam kurun waktu 5 tahun mendatang.

Namun sambungnya, jika mengacu kepada realisasi laju inflasi yang secara yoy pada Juli 2019 di atas 6 persen (6,28 persen), dan pada Juni adalah 5,87 persen. Maka bisa disimpulkan, laju pertumbuhan ekonomi Sumut secara yoy Triwulan II-2019 sebesar 5,25 persen, masih lebih rendah dari laju tekanan inflasinya yang juga secara yoy sebesar 5,87 persen.

“Secara ril pertumbuhan ekonomi Sumut ini negatif. Karena inflasi lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonominya. Angka pertumbuhan ekonomi Sumut netnya itu adalah -0,62 persen (negatif),” sebutnya.

Artinya, upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di atas nasional itu, tergerus dengan laju tekanan inflasi yang melebihi pertumbuhannya.

“Pada dasarnya kita tidak bisa menghitung pertumbuhan ekonomi tanpa melibatkan inflasi. Karena pertumbuhan ekonomi itu sejatinya adalah adanya penambahan jumlah pendapatan masyarakat ataupun peningkatan daya beli. Sementara inflasi ini justru menggerus daya beli masyarakat. Tergantung siapa yang paling besar di antara keduanya,” ucapnya.

Dengan realisasi pertumbuhan yang negatif seperti ini, lanjut dosen di UIN Sumut ini, maka Sumut memiliki beban besar di tahun 2020 nanti. Yakni penyesuaian perhitungan upah minimum regional (UMP).

“Jika seandainya kita disuruh menghitung berapa UMP saat ini, maka potensi kenaikan UMP kita adalah 11,12 persen (pertumbuhan ekonomi plus inflasi), minimal kenaikan gaji buruh sebesar itu,” sebutnya.

Menurutnya, kondisi ini akan menekan daya saing tenaga kerja di Sumut. Selain itu, masih ada beberapa tantangan lainnya, yaitu ekspor Sumut yang bisa saja turun di tahun ini jika perang dagang berlanjut, rupiah yang berpeluang melemah, inflasi yang tinggi.

“Semuanya karena kombinasi faktor negatif eksternal maupun internal. Dan yang internal seperti inflasi harusnya kita yang bisa lebih mengendalikannya,” pungkasnya. (nty)