RI-AS Rancang Konsep Dagang Free dan Fair

Jakarta – Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan konsep perdagangan baru, yang bertajuk free and fair atau dapat diartikan sebagai perdagangan bebas, namun adil bagi kedua negara.

Komitmen itu diraih`pasca pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden AS Mike Pence di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/4).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, konsep itu ditempuh lantaran AS memutuskan keluar dari Trans Pasific Partnership (TPP). Dengan alasan, konsep itu tidak mendukung keadilan dalam perdagangan.

“Kan dia sudah mundur dari TPP. Dia bilang bagaimana kita seperti halnya kami dengan Jepang, lain juga. Kita cenderung bilateral, buat kita enggak ada masalah,” ujarnya.

Nilai perdagangan antara Indonesia dan AS pada 2016 mencapai US$ 23,4 miliar. Sementara pada 2015 nilainya US$ 23,8 miliar dengan surplus untuk Indonesia sebesar US$ 8,6 miliar.

Komoditas utama ekspor RI ke AS adalah produk manufaktur apparel US$ 4,72 miliar, produk makanan US$ 1,78 miliar, produk kulit US$ 1,56 miliar, komputer dan produk elektronik US$ 1,43 miliar, dan produk perikanan US$ 1,39 miliar.

Untuk komoditas utama impor RI dari AS, yakni produk pertanian US$ 1,81 miliar, produk makanan US$ 783,7 juta, bahan kimia (Chemicals) US$ 781,6 juta dan alat transportasi US$ 626,4 Juta.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menambahkan, konsep tersebut akan selesai dalam kurun waktu sebulan ke depan. Seiring dengan rencana Retno bertolak ke Washington DC, Amerika Serikat (AS) menegosiasikan konsep dari Indonesia.

“Kita akan melihat kemungkinan-kemungkinannya. Apakah di dalam trade and investment itu kita mau pakai, mau dibilang misalnya trade and investment and then policy, finance, yang lain-lain yang terkait dengan Internasional,” jelas Retno pada kesempatan yang sama.

RI dan AS, kata Retno memiliki peluang besar untuk meningkatkan perekonomian dari sisi perdagangan. Asalkan semua bisa berjalan sesuai komitmen yang dipegang sejak awal. Baik pasar AS maupun Indonesia sangat terbuka untuk barang dari masing-masing negara.

“Keyword-nya adalah win-win. Kita dari awal, presiden bilang win-win. We are not only talk about free trade. But talking about fair trade,” terangnya.

Dalam kondisi perdagangan sekarang, Retno menambahkan defisit yang terjadi pada AS sebenarnya hanyalah barang. Sementara untuk kelompok jasa justru surplus.

“Ini juga harus dilihat, karena tidak mungkin di semua lini satu pihak beruntung. Itu berarti nggak fair-deal dong. Ya kan, harus ada fair-deal-nya dong. Oke, lo untung di sini, gue untung di sini. nanti kita dapatnya apa. Makanya free and fair. Dan win win. Dua kunci itu,” kata Retno.

Dalam kondisi perdagangan sekarang, Retno menambahkan defisit yang terjadi pada AS sebenarnya hanyalah barang. Sementara untuk kelompok jasa justru surplus.

“Ini juga harus dilihat, karena tidak mungkin di semua lini satu pihak beruntung. Itu berarti nggak fair-deal dong. Ya kan, harus ada fair-deal-nya dong. Oke, lo untung di sini, gue untung di sini. nanti kita dapatnya apa. Makanya free and fair. Dan win win. Dua kunci itu,” tandasnya. (dc)