Redam Inflasi, Pemerintah Harus Serius  Atur Manajemen Tanam Petani

 

Seorang petani sedang memanen cabai merah.Ist

Medan | Jurnal Asia
Tugas pemerintah Sumatera Utara (Sumut) dalam menekan inflasi yang ditargetkan sebesar 3,5 persen di Desember 2019 kian berat. Pasalnya, dua bulan terakhir ini, inflasi di Sumut sudah mencapai 2,4 persen dan hanya tinggal 1 persen lagi.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, dibutuhkan langkah khusus untuk meredam inflasi di Sumut. Salah satunya, pemerintah harus serius mengatur manajemen tanam terutama untuk komoditi penyumbang inflasi.

“Komoditas yang dominan penyumbang inflasi di Sumut itu diantaranya cabai merah dan bawang merah. Kita punya masalah di hulu,” katanya, Kamis (13/6).

Di hulu, lanjutnya, tidak memiliki manajemen tanam yang baik, artinya petani dibiarkan berjuang sendiri menanam komoditas. Dengan pola tanam yang tidak teratur ditambah lagi dengan kondisi cuaca kerap mengganggu produksi dan pasokan.

Selama ini, petani di Sumatera Utara melakukan pola tanam serentak sehingga seringkali banjir pasokan pada saat panen raya yang berdampak pada harga jual yang merugikan petani. Dan ketika petani memasuki masa pergantian tanaman maka kekosongan stok akan terjadi sehingga mendorong harga naik.

“Dengan adanya managemen waktu tanam maka pola distribusi dari hulu atau petani ke hilir atau konsumen bisa di atur,” tuturnya.

Intinya, kata Gunawan, dari proses tataniaga, pembentukan harga semua sudah mengacu ke mekanisme pasar artinya tidak ada masalah serius. Dan yang paling konkret yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperbaiki pola tanam di hulu.

Jangan biarkan petani bercocok tanam sendiri. Ia yakin jika pemerintah serius dalam mengatasi masalah ini, kedepannya harga komoditas sayuran seperti cabai bisa relatif aman terkendali.

“Manajemen stok juga harus diperbaiki. Namun, pengaturan pola tanam akan lebih efektif jika dibandingkan dengan pengadaan cold storage (tempat pasokan),” pungkasnya.(nty)