Produksi Industri Manufaktur Sumut Tumbuh 0,93 Persen

Kabag Tata Usaha Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Ramlan (kanan) beri keterangan pers.Netty

Medan | Jurnal Asia
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang provinsi Sumatera Utara (Sumut) di triwulan IV tahun 2018 naik 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Kenaikan ini dipicu oleh naiknya pertumbuhan produksi kertas, logam dasar, karet dan plastik.

Kabag Tata Usaha Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Ramlan mengatakan, untuk produksi industri kertas dan barang dari kertas naik sebesar 51,99 persen. Kemudian, logam dasar sebesar 24,53 persen, karet, barang dari karet dan plastik naik sebesar 17,65 persen.

“Selain itu, industri minuman naik 12,75 persen, bahan kimia dan barang dari bahan kimia naik sebesar 6,97 persen. Dan industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional naik sebesar 5,25,” katanya, Sabtu (2/2).

Sementara itu, ada beberapa industri yang mengalami penurunan pertumbuhan. Antara lain, industri barang logam, bukan mesin dan peralatan turun 34,59 persen, industri kayu turun 28,46 persen, pengolahan tembakau turun 25,32 persen. Serta bahan galian bukan logam 7,68 persen dan industri makanan sebesar 0,58 persen.

“Memang jika dibandingkan nasional yang pertumbuhannya mencapai 3,90 persen, kinerja nasional lebih baik dari Sumut. Permintaan pasar nasional lebih meningkat terhadap produk dari industri besar dan kecil,” katanya.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adyaksa sebelumnya mengatakan, ketersediaan energi menjadi salah satu faktor bagi pertumbuhan industri manufaktur. Di Sumut sendiri masih mengalami krisis pasokan listrik dan gas padahal banyak calon investor tertarik menanamkan modalnya di Sumut.

“Jika Sumut masih defisit energi maka pertumbuhan produksi manufaktur terus tergerus. Pemerintah pusat jangan terus ganti kebijakan, ke depan, manufaktur ini seharusnya jadi prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumut,” tegasnya.(net)