Penjualan Emas di Medan Naik 10-15 Persen

 

Ilustrasi emas.Ist

Medan | Jurnal Asia
Penjualan emas di Kota Medan selama Lebaran tahun ini diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 10-15 persen. Persentase tersebut hampir sama dengan Lebaran tahun lalu.

Padahal, pasca Lebaran, harga emas terus kinclong. Untuk kadar 99,99 persen , kini harganya Rp 605.000 per gram. Naik Rp2.000 dibandingkan Rabu (12/6) seharga Rp 603.000/gram.

Namun dibandingkan sebelum Lebaran, harga emas sudah naik hingga Rp8.000 per gram dari harga Rp 597.000 per gram. Kenaikan ini mengikuti harga emas dunia yang kini bertengger di level US$ 1.337 per troy ons.

Pemilik Toko Emas Suranta di Pasar Pringgan Medan, Edi Suranta mengatakan, untuk penjualan selama Lebaran ada kenaikan sekitar 10 sampai 15 persen Hanya saja, tahun ini ramainya hanya sebentar.

“Kemungkinan karena baru selesai Pemilihan Umum (Pemilu) sehingga dananya banyak yang terpakai pada momen tersebut,” katanya.

Sementara untuk masyarakat yang menjual emasnya, kata Edi, untuk saat ini belum ada. Meski sebenarnya momen kenaikan harga ini bisa dimanfaatkan, tapi kemungkinan masyarakat belum membutuhkan dana sehingga tidak menjual emasnya.

“Meski harganya naik, penjualan emas pasca Lebaran justru masih lesu. Masyarakat baru pulang mudik dan pengeluaran pasti banyak. Jadi saat ini, pasti tidak ada budget untuk membeli emas, tapi kondisi seperti ini biasa terjadi pasca Lebaran,” ujarnya.

Menurut pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, harga emas dunia dalam setahun terakhir bergerak dalam kisaran US$ 1.180 hingga US$ 1.300-an/troy ons. Kinerja harga emas dunia terpantau bergerak dalam rentang yang tidak begitu lebar.

Jika ditarik data setahun terakhir, penurunan harga emas sempat terjadi di tahun 2018, di mana titik terendahnya ada di bulan Oktober 2018.

Saat ini, harga emas ditransaksikan dikisaran harga US$ 1.377 per troy ons. Begitupun, kondisi ini bukanlah kondisi yang akan bertahan lama. Karena baik hubungan dagang dan geo politik cenderung bergerak liar dan membuat kinerja harga emas juga turut berfluktuasi.

“Selain itu, prospek ekonomi yang kurang begitu bagus dan imbal hasil surat berharga yang tidak begitu menguntungkan, membuat investor cenderung untuk membeli emas. Ditambah lagi jika terjadi kenaikan tensi hubungan politik antar negara yang kian memanas,” tuturnya.(nty)