Pemprov Sumut  Belum Miliki Langkah Atasi Kenaikan Harga Cabai Merah

Harga cabai merah masih bertahan mahal.Ist

Medan | Jurnal Asia

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) dinilai belum melakukan langkah konkrit dalam mengatasi lonjakan harga cabai merah yang sempat menyentuh level Rp120.000/kg. Padahal, kenaikan harga cabai merah telah membuat laju realisasi inflasi Sumatra Utara (Sumut) meroket di level 1,63%.

Bukan hanya menambah beban berat bagi Sumut dalam pencapaian target inflasi di akhir tahun, realisasi itu juga jauh lebih buruk sekitar 3 kali lipat dibandingkan dengan realisasi laju tekanan inflasi nasional yang hanya sebesar 0,55%.

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, sejauh ini pemerintah baru melakukan langkah normatif seperti melakuka  sidak ke pasar.

“Pemerintah seharusnya mendatangi langsung petani sebagai produsen dan mencari tahu solusi yang bisa dijalankan,” katanya, Senin (8/7).

Ia melanjutkan, selama ini petani dibiarkan sendiri tanpa pendampingan sehingga banyak petani yang tidak konsisten menanam satu jenis komoditi. Dengan kecenderungan mengikuti menanam komoditas yang sedang laris, maka wajar pasokannya pun tidak konsisten dari sisi volume.

Saat ini harga cabai merah di pasar tradisional di kota Medan sudah dikisaran Rp 60.000/kg. Harga ini masih dinilai mahal karena biasanya cabai merah dijual di kisaran Rp20.000-an/kg.

Terkait realisasi inflasi Juni, kata Gunawan, laju tekanan inflasi sebesar itu tentunya tidak baik bagi perekonomian Sumut. Namun, pihaknya juga harus adil memberikan penilain terkait buruknya realisasi laju tekanan inflasi di wilayah Sumut.

Salah satu penyebab utama adalah kenaikan harga cabai. Selama tahun berjalan 2019, harga cabai yang meroket dari kisaran Rp 15.000/kg telah mengerek laju inflasi lebih dari 3 persen.

“Karena itulah diperlukan langkah konkrit dari pemerintah untuk mengatasinya,” tutupnya.(nty)