Pasca Pemilu, IHSG dan Rupiah Kembali Perkasa

Ilustrasi IHSG.Ist

Medan | Jurnal Asia
Pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung di buka melejit 1% hingga berhasil ke posisi teratas di level 6.636. IHSG tertinggi naik lebih dari 2%.

Namun, perdagangan saham sesi II, IHSG mulai goyah hingga akhirnya di tutup naik tipis 25 poin atau naik 0.396% di level 6.507 pada Kamis (18/4). Perdagangan saham menguat di topang penguatan saham di berbagai sektor terutama sektor keuangan, manufaktur dan konsumer.

Tak hanya IHSG, nilai tukar Rupiah juga melanjutkan reli penguatannya. Rupiah bertahan di zona positif terhadap dolar AS dan Rupiah tercatat naik 0,2% dikisaran Rp14.050/USD.

Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin mengatakan, investor harus memperhatikan aksi profit taking yang bisa terjadi di perdagangan saham. Investor cenderung jual saham guna menikmati keuntungan yang sudah di dapat.

“Sebelumnya, IHSG juga sudah ditutup naik jadi wajar jika hari ini investor melakukan Profit taking,” ucapnya.

Yang menarik dari perdagangan saham hari ini ialah volasitas saham naik cukup tinggi serta euforia pemilihan Presiden sangat tergambar jelas di pasar saham. Terpantau, transaksi saham terjadi diatas rata-rata harian yakni sebanyak 515.200 kali transaksi dengan nilai transaksi sebesar Rp13 triliun.

“Saya kira, kita harus tetap menjaga keamanan dan keberhasilan pesta demokrasi kita ini hingga pengumuman sah dari KPU nantinya. Sejauh ini Kemenangan Presiden paslon 01 yakni Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dari hasil Quick Count disambut baik bagi para investor saham dan emiten bursa,” katanya.

Di sisi lain, saham-saham di bursa Global melemah dimana kospi turun 1,6%, Shanghai turun 0,39%, STI turun 0,162%, NYSE turun 0,34%, Dow Jones turun tipis 0,012% dan CAC 40 Paris turun 0,328%.

Gunawan memperkitakan, dengan menguatnya nilai Rupiah terhadap dolar AS maka investasi asing akan masuk ke Indonesia lebih banyak lagi pasca pemilu 2019 ini. Hal ini sejalan dengan stabilnya inflasi.

“Selain inflasi stabil, banyaknya program-program pemerintah yang memfasilitasi masuknya dana asing ke Indonesia seperti pergelaran sukuk, obligasi, SBSN dan lain sebagainya,” tandasnya.(nty)