Investasi Indonesia Tumbuh 9,4 Persen

Ilustrasi investasi infrastruktur.Ist

Medan | Jurnal Asia

Total investasi Indonesia pada semester I-2019 mencapai Rp395,6 triliun atau tumbuh sebesar 9,4 persen dibandingkan periode sama tahun 2018 senilai Rp 361,6 triliun. Pertumbuhan investasi di dalam negeri pada paruh pertama tahun ini lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 7,4 persen secara tahunan.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi semester I-2019 ini mampu menyerap 490.715 tenaga kerja. Secara rinci, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 182,8 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) senilai Rp 212,8 triliun.

Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong mengatakan, realisasi investasi pada semester I-2019 didominasi sektor infrastruktur, seperti transportasi, telekomunikasi, pembangkit listrik, dan konstruksi.

“Pertumbuhan realisasi investasi ini menjadi sinyal penanaman modal pada semester II-2019 akan kembali meningkat. Tentunya ini tidak lepas dari kondisi politik dalam negeri yang makin stabil setelah penetapan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019—2024,” katanya, kemarin.

Khusus penanaman modal asing, kinerja investasi pada kuartal II-2019 belum bergerak ke arah positif. Realisasi PMA pada kuartal II-2019 hanya sebesar USD 6,90 miliar, atau turun 3,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai USD7,14 miliar.

Tapi meski terjadi penurunan, realisasi tersebut masih tumbuh jika dikonversi ke dalam rupiah, yakni mencapai Rp 104,9 triliun, atau naik 9,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal itu disebabkan adanya perbedaan asumsi kurs yang digunakan sebagai acuan untuk menghitung kinerja investasi tersebut.

Salah satu contoh, selama kuartal II-2018, menggunakan asumsi kurs Rp13.400/dolar AS, sedangkan pada periode yang sama tahun ini menggunakan acuan Rp15.000/dolar AS.

Plt Deputi Bidang Pengendalian, Pelaksanaan, Penanaman Modal BKPM, Farah Ratnadewi Indriani, mengatakan, dalam menghitung realisasi investasi asing, pihaknya selalu menggunakan acuan dalam APBN.