Industri Kabel Sambut Baik Proyek Listrik 35.000 MW

Jakarta | Jurnal Asia
Rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik dengan kapasitas total sebesar 35.000 megawatt disambut baik oleh pelaku industri kabel nasional. Proyek pembangunan listrik itu dinilai bakal memberikan prospek untuk industri kabel hingga 10 tahun ke depan. Ketua Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (Apkabel), Noval Jamalullail, menyambut baik rencana pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt oleh pemerintah. “Kami senang sekali. Tidak ada listrik yang tidak mengalir tanpa kabel, tentu proyek itu jadi pendorong untuk industri kabel Indonesia,” ujar Noval, Minggu (18/1).

Namun ia tidak bisa memberikan gambaran berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh oleh perusahaan kabel dari proyek tersebut. Pasalnya dia menjelaskan perusahaan yang dapat proyek atau menang tender belum tentu perusahaan tersebut bakal serta merta mendulang keuntungan.

Pangkal persoalannya adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pembeli kabel, menggunakan mekanisme tender Kontrak Harga Satuan (KHS) yang berlaku fixed price (harga tetap) hingga satu tahun. Hal ini dinilai memberatkan karena dalam setahun bisa terjadi fluktuasi harga material kabel yang dibarengi dengan fluktuasi kurs.

“Bahan baku kami alumunium dan tembaga yang kami beli menggunakan kurs dollar. Seperti diketahui kurs dollar terhadap rupiah fluktuatif. Belum lagi harga alumunium dan tembaga di London Metal Exchange juga terus berubah,” ujar Noval.

Ia mengatakan dengan kontrak harga kabel yang dipatok sama sepanjang tahun, namun tidak melihat kenaikkan harga bahan baku, tentu mengakibatkan kerugian di perusahaan kabel.
Sementara itu, utilitas kapasitas produksi industri kabel nasional pada 2014 menyusut menjadi tinggal 70%-80% dari total kapasitas produksi nasional. Hal ini disebabkan karena diselenggarakannya Pemilu yang menyebabkan pemodal banyak wait and see sehingga serapan anggaran proyek berkurang atau tidak maksimal, yang membuat permintaan kabel pun susut.

Noval menegaskan, utilitas produksi berkurang akibat berkurang atau tidak terserapnya anggaran proyek sehingga menurunkan permintaan kabel. “Karena ada pemilu menyebabkan pemodal banyak wait and see sehingga serapan anggaran proyek berkurang atau tidak maksimal, yang membuat permintaan kabel pun susut,” ujar Noval.

Padahal sebetulnya permintaan kabel tetap tinggi. Namun karena serapan anggarannya yang tidak maksimal membuat belanja kabel menurun, permintaan menurun, dan produksi atau utilitas produksi menurun.

Saat ini kapasitas produksi nasional untuk kabel listrik adalah 550.000 ton per tahun dengan pembagian kabel jenis tembaga adalah 380.000 ton per tahun, sedangkan alumunium adalah 170.000 ton per tahun. Utilitas pada 2014 adalah 70%-80% atau sekitar 385.000 ton-440.000 ton. Pada 2013 permintaan kabel mencapai 500.000 ton atau setara dengan 90,90% dari total kapasitas produksi. (kci)