Harga Komoditas Unggulan Sumut Diperkirakan Kembali Stagnan

Komoditas sawit.Ist

Medan | Jurnal Asia
Harga komoditas unggulan asal Sumatera Utara (Sumut) seperti sawit maupun karet di bulan Februari ini telah menemukan titik keseimbangan yang lebih stabil. Karet dijual dalam rentang 180 hingga 200 yen per kilogram dan CPO dijual dikisaran 2.300 ringgit per tonnya.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, selama 2018 harga karet dan sawit terpuruk. Namun harganya sudah kembali pulih seperti saat sebelum dideklarasikannya perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

“Pasca perang dagang tersebut, harga karet maupun sawit terpangkas hingga mencapai 40%. Sebelum akhirnya kembali menguat,” katanya, Jumat (8/2).

Diterangkannya, sebelum perang dagang disuarakan oleh Presiden AS Donald Trump, harga karet bergerak dikisaran 180 hingga 200 yen per Kg. Harga CPO ditransaksikan dalam rentang 2200 hingga 2.300 Ringgit per Tonnya. Keduanya sempat anjlok, karet sempat mendekati 130 yen per Kg dan CPO sempat terpuruk dikisaran 1800 Ringgit per ton.

Saat ini kedua harganya sudah kembali pulih, karet di jual dalam rentang 180 hingga 200 yen per Kg. Dan CPO dijual dikisaran 2.300 ringgit per tonnya.

Harga karet dijual dikisaran Rp7000-an per Kg, setelah di tahun 2018 sempat terpuruk dikisaran Rp4.000 an per Kg. Sementara itu, harga sawit dijual dikisaran Rp1.200 hingga Rp1.600 per Kg tergantung kualitas, padahal di tahun kemarin sempat anjlok dalam rentang Rp500 hingga Rp700 per Kg.

Sejak januari tahun ini, katanya, harga kedua komoditas tersebut memang menunjukan tren kenaikan harga. Namun, untuk sementara waktu harga dua komoditas tersebut akan tertahan sementara di level sekarang.

“Jika merujuk kepada realisasi harga 1 tahun lalu, kedua komoditas tersebut harganya sudah kembali normal,” ucapnya.

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa harga sawit dan karet tidak akan melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat. Untuk sawit, pasokan diperkirakan akan mengalami peningkatan mendekati musim panen.

Sedangkan karet, secara teknikal harga karet sudah masuk dalam titik keseimbangan baru. Dan di awal tahun ini dua komoditas tersebut masih minim sentimen.

Ditambah dengan tren penguatan Rupiah. Harga kedua komoditas tersebut sulit beranjak naik dalam jangka pendek selama sisi eksternal tidak bergejolak. Harga komoditas tersebut diyakini di tahun ini akan stabil hingga ada sentiment baru yang menguatkannya.

Ia menambahkan, rencana pemerintah meningkatkan porsi CPO dalam bio diesel (B30) serta rencana untuk mencampur karet untuk kebutuhan aspal sangat dinanti realisasinya.

“Kebijakan tersebut lebih berpengaruh dan memberikan dorongan positif terkait dengan pemulihan harga di tingkat petani. Tetapi dengan satu catatan, tidak ada gejolak ekonomi eksternal,” pungkasnya.(nty)