Harga Keekonomian Bensin di Bawah Rp5.000

Jakarta | Jurnal Asia
Kementerian ESDM mengakui harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar yang dijual di SPBU saat ini, yaitu Rp7.050/liter dan Rp5.650/liter, sudah di atas harga keekonomian Berdasarkan data Ke­men­terian ESDM, harga BBM jenis Premium sudah di bawah Rp 5.000/liter sejak akhir Desember 2015 (sebelumnya ditulis di bawah Rp4.000/liter). Harga keekonomian bensin Premium mencapai titik terendahnya pada 3 Februari 2016, yaitu Rp 4.800/liter.

“Kalau dihitung per hari ini memang (harga keekonomian BBM) lebih murah dari yang kita jual. Ada 1 titik pernah Rp 4.800/liter di 3 Februari 2016. Sampai hari ini di bawah Rp 5.000/liter sejak akhir Desember 2015,” kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Wiratmaja Puja, dalam jumpa pers di Gedung Migas, Jakarta, Senin (22/2).

Namun, harga Premium dan Solar tidak bisa segera turun karena pemerintah menetapkan harga setiap 3 bulan, berdasarkan harga rata-rata BBM pada 3 bulan sebelumnya. Misalnya harga BBM yang ditetapkan untuk Januari-Maret 2016, ditetapkan berdasarkan rata-rata harga BBM pada Oktober-Desember 2015.

Saat harga keekonomian lebih rendah, Pertamina memang menikmati ‘kelebihan’ dana dari hasil penjualan Premium dan Solar. Tetapi saat harga keekonomian lebih tinggi dibanding harga jual yang ditetapkan, Pertamina harus menanggung ‘kekurangannya’ sampai diganti pemerintah di tahun berikutnya.

“Kita tidak menghitung (harga BBM) per hari per bulan, kita mengambil rata-rata 3 bulan lalu. Kelemahannya tentu saat harga tinggi sekali, Pertamina harus menanggung,” tutur Wirat.
Kelebihan dana hasil penjualan BBM dikelola oleh Pertamina dan akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di akhir tahun. Kelebihan tersebut tidak boleh dinikmati oleh Pertamina, tetapi harus digunakan untuk menalangi selisih antara harga keekonomian BBM dengan harga BBM yang ditetapkan pemerintah ketika harga keekonomian sedang melambung tinggi.

“Masih dikelola Pertamina semua kelebihannya. Di akhir tahun akan diaudit oleh BPK sehingga BPK menghitung ke­lebihan atau kekurangan sekian. Kalau lebih akan di­gunakan tahun depan, kalau kurang ditambah negara,” Wirat menjelaskan.

Rendahnya harga ke­eko­nomian BBM ini diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang tahun sehingga Pertamina mem­peroleh kelebihan dari penjualan BBM jenis Solar dan Premium. “ICP (Indonesian Crude Price/harga minyak Indonesia) di US$ 30-40/barel, harga minyak masih di sekitar-sekitar itu,” pungkasnya. (dtf)