Gapkindo Sumut Prediksi Kinerja Karet di 2019 Belum Membaik

Karet : Kondisi kebun karet di Kabupaten Langkat. Netty

Medan | Jurnal Asia
Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara (Sumut) memprediksi kinerja karet di 2019 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Dibutuhkan upaya bersama dari produsen utama dalam memperbaiki harga karet yang kian melemah.

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah mengatakan, pelemahan harga karet sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Jika tidak ada upaya dari produsen-produsen utama maka keadaan ini tidak berubah.

“Perubahan harus ini dilakukan bersama  produsen lainnya, tidak hanya Indonesia tetapi juga Thailand, Vietnam, India, Kamboja dan Myanmar,” katanya, Jumat (11/1).

Kondisi saat ini di lapangan, banyak pengusaha yang sudah menghentikan pengoperasian pabriknya. Masalahnya, mayoritas pabrik-pabrik ini  tidak punya kebun dari mana bahan bakunya.

Dengan keadaan seperti itu, kata Edy, mungkin kondisi karet di Sumut tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, tetap melemah. Saat ini, produksi berkurang karena petani tidak lagi Menderes karet di kebunnya.

“Nah kalau saja nanti, tiba-tiba ada pergerakan harga yang lebih baik,  ini produksi akan meningkat karena petani kembali menderes kebunnya,” ucapnya.

Menurutnya, ada satu faktor tanda-tanda harga karet membaik maka produksi akan meningkat dan kapan lagi petani mendapatkan harga yang baik. Tapi kebalikannya, kalau harga menurun produksi itu semakin tidak ada karena petani meninggalkan kebunnya.

Meski banyak petani yang  beralih profesi, terkait perubahan lahan tidak ada data kongkrit. Kalaupun dilihat dari data, itu tidak bisa jadi patokan karena bahan baku di pabrik karet yang ada di Sumut sumbernya bukan hanya dari daerah ini saja tetapi juga dari daerah lain.

Kinerja Ekspor
Data dari Gapkindo Sumut menyebutkan sepanjang Januari-November 2018, volume ekspor karet sekitar 420.572 ton dari sebelumnya pada periode yang sama pada tahun 2017 sebesar 473.050 ton. Atau menurun 11 persen.

Penyebab utama penurunan ekspor ini karena adanya penundaan ekspor karena berkurangnya bahan baku. Dalam kondisi kurangnya pasokan harga di pasar global cenderung bertahan rendah di sekitar USD125 sen per kg karet TSR20.

“Kalau untuk realisasi sepanjang Desember 2018, sepertinya tidak  terlalu jauh nilainya dibandingkan November 2018,” pungkasnya. (net)