Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 4,9 Persen di 2019, Pengusaha Masih Wait and See

Chief Economist CIMB Niaga, Adrian Panggabean.Netty

Medan | Jurnal Asia
Chief Economist CIMB Niaga, Adrian Panggabean memprediksi, potensi perekonomian di lndonesia tahun 2019 tumbuh sekitar 4,9 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding 2018 di mana ekonomi tumbuh 5,2 persen dari target awal 5,4 persen.

Menurutnya, perekonomian Indonesia di2019, sebagaimana terlihat dari fluktuasi yang terjadi di Januari 2019, diprediksi masih akan dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan ketidakpastian, baik eksternal dan internal.

Karena itu, ia mengajak para pelaku ekonomi tetap berhati-hati dan jeli. Selain itu, pemangku kebijakan ekonomi juga perlu membuat formulasi kebijakan yang tepat dan antisipatif.

“Mengacu pada kemungkinan suku bunga FED akan kembali dinaikkan maka biasanya akan berpengaruh terhadap rupiah. Diduga pengusaha akan melakukan aksi wait and see hingga Juli atau saat ada Presiden baru,” katanya di Medan, Senin (11/2).

Adrian melanjutkan, fluktuasi tajam dalam harga-harga di pasar finansial akan terus berlanjut di 2019 sebagai efek dari naiknya suku bunga. Efeknya adalah pada prospek pergeseran ekstrim dalam harga-harga aset seperti valuta asing, obligasi dan indeks harga saham.

Dari sisi eksternal, tantangan terhadap perekonomian Indonesia berasal dari sejumlah faktor, seperti ketidakpastian frekuensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi di Tiongkok serta bentuk respon kebijakan bank sentral China.

Sementara dari sisi domestik, tetap ketatnya postur kebijakan moneter dan telatif absennya dorongan kebijakan berpotensi menurunkan momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal pemerintah (APBN) yang relatif netral terhadap siklus bisnis menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019.

Meski demikian, kata dia, lndonesia masih bisa optimis karena sejumlah hal. Pertama, tingkat inflasi akan tetap terjaga, tekanan impor juga diperkirakan akan mulai berkurang di 2019 sejalan dengan hampir rampungnya banyak proyek infrastruktur.

Selanjutnya, terbatasnya frekuensi kenaikan suku bunga acuan di 2019 akan membuat pasar obligasi relatif bergairah. Sehingga dinamika perekonomian yang menantang pada 2019 bukanlah hal yang harus ditakuti.

Secara mikro, sambungnya, pada 2018 bidang food and beverage tumbuh di atas 10 persen dan ini masih akan tumbuh di 2019. Di mana-mana orang tetap membuka cafe, restoran dan lainnya. Sedangkan berdasarkan subsektor bidang logistik diprediksi akan tumbuh karena Indonesia sedang banyak membagun infrastruktur

“Jadi kalau pengusaha mau cari uang bisa di dua sektor ini. Selain itu, berdasarkan skala, bisnis yang berpola e-commerce juga bisa ditekuni,” tandasnya.(nty)