Ekonom Sumut : Kebijakan Gojek Dinilai Tepat untuk Berikan Rasa Aman dan Nyaman Bagi Mitra di Medan 

 

Ratusan driver Gojek gelar aksi di Medan.Ist

Medan | Jurnal Asia
Aksi demontrasi yang dilakukan pengemudi ojek online di Medan sangat disayangkan. Pendemo dinilai kurang memanfaatkan kesempatan komunikasi dua arah yang telah dibangun perusahaan dengan mitranya sejak lama.

Pengamat ekonomi asal Medan, Gunawan Benjamin mengatakan, seharusnya mitra Gojek bisa memanfaatkan komunikasi dua arah dengan perusahaan. Komunikasi tersebut bisa menjadi media untuk mediasi kedua belah pihak.

“Kenapalah harus berdemo. Mitra Gojek bisa memanfaatkan komunikasi dua arah agar masukannya bisa diterima. Karena demo justru hanya memperkeruh,” katanya, Kamis (15/8).

Gunawan menilai, aksi demontrasi tersebut masih dilatarbelakangi oleh upaya jaminan kualitas layanan yang dilakukan Gojek. Pertama terkait pemerataan orderan.

Dalam survei yang pernah dilakukannya, ia menemukan adanya keluhan konsumen terkait orderan yang diambil mitra namun proses penjemputan lama. Keluhan tersebut lalu direspon pihak aplikator ojek online Gojek dengan kebijakan yang menjamin kenyamanan konsumen.

“Jadi keluhan tersebut harus direspons, dengan kebijakan yang lebih menjamin kenyamanan konsumen. Seperti memprioritaskan mitra yang lebih banyak memgambil orderan dan diratingkan. Belum lagi mengenai GPS sejumlah mitra yang palsu, ini juga tentunya menjadi pertimbangan kebijakan untuk masalah orderan tersebut,” ucapnya.

Tuntutan lain yang pernah disampaikan pendemo kepada Gojek adalah membuka kembali pendaftaran mitra (on boarding). Padahal, kata Gunawan, jika kebutuhan konsumen masih besar maka on boarding pasti dilakukan Gojek.

“Ada juga yang mendemo agar Gojek membuka pendaftaran mitra atau on boarding. Isu ini tentunya harus dibarengi sejumlah kajian analisis,” kata dia.

Salah satu caranya adalah keseimbangan antara permintaan serta persediaan dan jika trennya sudah jenuh  memang sebaiknya ditutup dahulu. Ini agar menjaga persaingan antar driver tidak terlalu ketat, kesinambungan pendapatan mitra juga perlu dipertimbangkan di situ.

Sementara, untuk kasus open suspend, sambungnya, harus mempertimbangkan sisi konsumennya terlebih dahulu. Sebab, jika open suspend dibuka begitu saja, dikhawatirkan akan berpotensi merusak bisnis perusahaan.

“Jadi open suspend ini seharusnya mempertimbangkan sisi konsumennya terlebih dahulu. Bukan dibuka begitu aja karena justru sangat berpotensi merusak bisnis Gojek sendiri, dan membuat kualitas layanan Gojek menurun,” tandasnya.

Head CA Gojek Regional Sumatera, Teuku Parvinanda mengatakan, pihaknya selalu rutin menggelar Kopdar untuk menjaga komunikasi dua arah dengan mitra kerja mereka. Hal tersebut untuk menjaga kualitas komunikasi antara perusahaan dengan mitra driver.

Selain itu, Gojek memiliki sistem prioritas dengan pembaharuan sistem alokasi untuk terus meningkatkan kemudahan dan kenyamanan mitra driver dalam bekerja.
Pada sistem ini, kedekatan dengan titik lokasi bukanlah satu-satunya parameter dalam pembagian order.

“Melalui sistem yang baru ini, jumlah mitra driver yang berbuat curang menggunakan Fake GPS dapat berkurang. Secara tidak langsung membuat pengguna mendapat kualitas pelayanan yang lebih baik,” tukasnya.

Ia melanjutkan, pihaknya sudah tidak membuka lagi pendaftaran mitra driver di Medan. Namun, pembukaan pendaftaran bersifat dinamis dengan mempertimbangkan supply dan demand untuk memastikan masyarakat tetap dapat menggunakan layanan dengan baik.

Kemudian, Open suspend atau pemutihan akun berseberangan dengan apa yang menjadi salah satu prioritas dalam memberikan layanan yang aman dan nyaman kepada para pengguna. Selain itu, hal ini akan merugikan para mitra aktif yang sudah bekerja keras untuk menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan.(nty)