Daya Beli Petani di Sumut Rendah

 

Seorang petani sedang mengarit rumput.Netty

Medan | Jurnal Asia
Pembangunan sektor pertanian Sumatera Utara (Sumut) yang lebih condong ke skala proyek ditengarai menjadi pemicu nilai tukar petani (NTP) atau daya beli petani di Sumut terus berkutat di bawah 100. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, NTP Sumut pada September 2019 tercatat sebesar 96,34.

Meski naik 0,53 persen dibandingkan Agustus sebesar 96,83 tapi indeks ini menunjukkan jika daya beli petani Sumut masih sangat rendah.

“NTP itu menjadi tolak ukur untuk melihat apakah petani sudah sejahtera atau tidak. Nah, jika di bawah 100, itu artinya kemampuan daya beli rendah dan petani kita tidak sejahtera. Ini PR besar pemerintah. Harus ada solusi agar NTP bisa digenjot di atas 100,” kata pengamat pertanian dari USU, Prof. Abdul Rauf.

Rauf mengatakan, pembangunan sektor pertanian skala proyek yang selama ini diterapkan di Sumut memang sangat merugikan petani. Karena dengan skala proyek, pembangunan sektor pertanian hanya berdasarkan pada proyek saja bukan multiyears.

Padahal pertanian itu tidak bisa dirampungkan hanya dengan satu proyek saja, yang misalnya waktunya hanya 3 bulan, 6 bulan atau setahun.

“Pembangunan pertanian itu harus seperti sekolah. Bukan karena tidak ada dana maka sekolah dihentikan. Tidak bisa. Padahal pertanian selalu disebut sebagai soko guru perekonomian. Tapi kalau pembangunannya tetap berdasar ke skala proyek, maka akan begitu-begitu saja. Kontribusinya akan kalah dengan sektor industri,” kata Rauf.

Pembangunan subsektor pertanian, katanya, penting dilakukan secara merata agar pendapatan petani bisa terdongkrak. Jangan hanya fokus ke satu subsektor saja.

Selain itu, tata niaga produk pertanian jangan hanya mengedepankan hasil di atas kertas. Perlu melihat dan mencatat realita di lapangan. Karena selama ini petani selalu ‘kalah’ dari segi pemasaran.

“Ini PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota. Dan jika ada program-program, harus bisa meningkatkan kualitas hasil pertanian. Tidak semata bagaimana menggenjot kuantitas. Petani juga harus digiring menjadi petani cerdas,” pungkasnya.(nty)