Cemas Virus Corona, Rerata Okupansi Hunian Hotel di Medan Capai 50 Persen

 

Salah satu hotel di Sumut.Netty

Medan | Jurnal Asia
Pebisnis hotel di Indonesia kian cemas dengan mewabahnya virus corona. Pasalnya jika tidak meredah akan berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp2,7 triliun.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara (Sumut), Denny S Wardhana meyakini, kondisi itu tidak akan berdampak signifikan pada hotel-hotel yang ada di daerah. Sebagai contoh, hotel di Sumut khususnya Medan, tingkat hunian masih dikisaran 50 persen.

“Sumut tidak menjadi tujuan langsung wisatawan dari Tiongkok atau negara-negara lain yang sudah terjangkit wabah corona, kecuali Singapura. Juga karena memang tidak ada penerbangan yang memiliki rute langsung. Dampak langsung mungkin saja terjadi dan itu pun dari wisatawan Singapura,” katanya, Rabu (12/2/2020).

Selama ini, tingkat okupansi hotel di Sumut lebih didorong oleh kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) dari pihak-pihak di dalam negeri. Ditambah lagi Sumut sendiri sejauh ini masih lebih didominasi oleh wisatawan nusantara.

“Yang lebih berdampak pada kawasan pariwisata, itu sangat terdampak, atau daerah-daerah yang memiliki penerbangan langsung dari dan ke China,” ujarnya.

Menurutnya, turis Singapura sendiri sejauh ini belum menjadi langganan pengisi hotel di Sumut dalam jumlah besar. Namun berbeda dengan Malaysia, turis asal negeri Jiran itu mendominasi warga asing yang mengisi hotel-hotel di Sumut.

Dia mengatakan, PHRI Sumut sudah menerima imbauan dari Kementerian Pariwisata untuk berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat bila ada penghuni kamar hotel yang diduga terpapar virus corona. Imbauan yang sama juga sudah diperoleh dari pemerintah kota dan provinsi.

Kendati demikian, dia memandang kalangan perhotelan Sumut belum perlu merespon ancaman wabah corona lebih serius, secara langsung dari sisi bisnis. Misalnya dengan menurunkan harga kamar agar lebih menarik minat tamu hotel, atau menambah peralatan pemindai tubuh di hotel.

Kalangan perhotelan masih tetap harus mempercayakan tindakan pemeriksaan orang-orang yang datang di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara oleh otoritas-otoritas terkait. Begitu juga dari sisi organisasi, PHRI Sumut menurutnya belum perlu mengeluarkan kebijakan khusus dalam menyikapi masalah ini.

“Kekhawatiran dari kalangan hotel pasti ada, tetapi kita harus tetap optimis masalah ini akan bisa berlalu dengan baik. Kita hanya perlu waspada,” imbuhnya.

Apalagi jika berkaca dari wabah serupa, yakni SARS, yang terjadi di China pada 2003 silam, okupansi hotel di Sumut juga tidak terlalu berdampak ketika itu. Malah ia yakin okupansi hotel di Sumut akan mengalami peningkatan karena beberapa waktu mendatang karena akan banyak event yang digelar, seperti dari instansi pemerintah ataupun swasta.(nty)