Bursa RI Kehilangan Rp2.108 Triliun Akibat Corona

 

Ilustrasi kinerja IHSG.Ist

Jakarta | Jurnal Asia
Virus corona atau Covid-19 benar-benar jadi momok bagi pasar saham domestik. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hampir 30% jika dihitung dari awal tahun hingga perdagangan perdagangan kemarin, Selasa (17/3/2020).

Kejatuhan pasar saham domestik tersebut membuat nilai kapitalisasi IHSG berkurang Rp2.108,36 triliun. Nilai yang cukup besar, setara dengan 83% nilai asumsi belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2020 sebesar Rp2.540,4 triliun atau 94,41% dari pendapatan negara yang ditetapkan sebesar Rp2.233,2 triliun.

Dikutip dari laman CNBCIndonesia, berdasarakan data Bursa Efek Indoensia (BEI) koreksi IHSG secara year to date mencapai 29,25% ke level 4.456,75. Koreksi tersebut memang bukan yang terburuk dibandingkan dengan bursa saham di negara ASEAN.

Bursa saham Thailand tercatat mengalami koreksi lebih dalam, dimana indeks SETi terkoreksi hingga 34,15%. Lalu indeks PSEi di Filipina drop 31,73%, baru kemudian IHSG.

Sementara itu bursa saham Singapura, indeks STI turun 23,84%, indeks FTSE BM di Malaysia turun 20,91, dan VN-Index di Vietnam turun 22,39.

Bursa saham dunia seperti indeks Dow Jones terkoreksi 29,26%, indeks Nikkei di Jepang drop 28,09%, indeks Hang Seng turun 17,47% dan indeks saham China turun 8,87%.

Penurunan nilai kapitalisasi saham yang relatif besar tersebut juga disertai denan penarikan modal asing. Berdasarkan data BEI, nilai net sell investor asing pada periode yang sama mencapai Rp8,55 triliun.

Virus corona yang terus mewabah di seluruh dunia telah menebar ketakutan bagi investor. Ada ancaman krisis global yang dibayangkan oleh para pemilik modal dampak dari kebijakan isolasi yang memutus mata rantai ekonomi dunia.

Epicentrum pertama Covid-19 berada di Wuhan, China dan menyebar ke seluruh negeri Tirai Bambu tersebut. Ekonomi China sempat mengalami guncangan, sejumlah lembaga keuangan dunia memprediksi pada kuartal I-2020 China hanya bisa membukukan pertumbuhan 3,5% berdasarkan konsensus Reuters beberapa waktu lalu.

Ketakutan terhadap penyebaran virus corona ini tampaknya belum berhenti. IHSG masih berpotensi terkoreksi, meski sebagian pelaku pasar menilai saat ini secara teknikal IHSG sudah berada pada level bottom dan valuasi saham-saham sudah sangat murah.

Namun asumsi fundamental dan teknikal terasa diabaikan dalam situasi yang panik seperti saat ini. Apalagi virus corona belum ditemukan obatnya, meskipun tingkat penyebarannya sudah bisa terkendalikan, khususnya di China.

Virus corona sudah membuat ketidakpastian dalam ekonomi global. Namun demikian, berharap para investor lebih rasional dalam melihat peluang investasi di pasar saham.(nty)