BI Sumut Gandeng Perbankan Layani Penukaran UPK dan UTLE di Delapan Pasar di Medan

Kas Keliling : Direktur BI Perwakilan Sumut, Andiwiana Septonarwanto melepas mobil kas keliling di halaman gedung BI Perwakilan Sumut, Kamis (14/3).Netty

Medan | Jurnal Asia
Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) gandeng perbankan untuk melayani penukaran Uang Pecahan Kecil (UPK) dan uang tidak layak edar (UTLE) di delapan pasar di Kota Medan. Delapan Pasar tersebut yakni Pusat Pasar, Pasar Petisah, Pasar Bakti, Pasar Sukaramai, Pasar Simalingkar, Pasar Titi Papan, Pasar Titi Kuning, dan Pasar Sambas.

Direktur BI Perwakilan Sumut, Andiwiana Septonarwanto mengatakan, dari survei kelayakan uang (soil level) di Sumatera Utara pada semester II 2018 diperoleh hasil soil level 11,73 (UPB) dan 7,89 (UPK) di bawah rata-rata nasional. Angka ini turun dari semester I yaitu 12,27 (UPB) dan 8,8 (UPK) dari skala 1-16.

Andi melanjutkan, image perbankan maupun masyarakat terhadap kebutuhan UPK selalu dengan Hasil Cetak Sempurna (HCS). Padahal pemenuhan kebutuhan uang tidak hanya HCS tetapi juga Uang Layak Edar (ULE) eks peredaran.

“Kami memohon kerjasama dan bantuan para perbankan agar dapat mengedukasi kepada masyarakat bahwa pemenuhan kebutuhan uang tidak hanya dengan HCS tetapi juga dengan ULE eks peredaran, termasuk kebutuhan UPK,” katanya, usai Kick Off Program Kas Keliling dan Layanan Penukaran UPK di halaman gedung BI Perwakilan Sumut, Kamis (14/3).

Andiwiana mengatakan, launching penukaran UPK dan kas keliling ini bukan hanya bekerjasama dengan perbankan tapi juga PD Pasar Kota Medan. Penukaran UPK dan UTLE dilakukan untuk menjaga kelancaran transaksi pembayaran dan mendukung clean money policy di wilayah Sumut khususnya di Kota Medan.

“Perbankan sebagai garda terdepan diharapkan untuk ikut serta meningkatkan distribusi uang pecahan kecil kepada retailer, pasar tradisional dan masyarakat umum baik melalui mekanisme penarikan dan atau penukaran,” ujarnya.

Penukaran UPK dan UTLE di delapan pasar di Kota Medan dilayani dengan kas keliling oleh delapan bank yakni BRI, Mandiri, BNI, Permata, CIMB Niaga, Maybank, BRI Syariah dan BJB. Jadwal penukarannya dilakukan setiap hari Senin dan Kamis pukul 09.00 sampai 12.00 WIB.

“Setiap hari penukaran, layanan kas keliling bersama “dibekali” dengan modal senilai Rp 370 juta per mobil,” jelasnya.

Selain kas keliling di pasar, loket penukaran UPK dan UTLE juga dibuka sebanyak 70 loket diseluruh perbankan di Sumit. Jadwal penukarannya juga Senin dan Kamis pukul 09.00 sampai 12.00 WIB dengan modal Rp308 juta per loket per hari layanan.

“Melalui sinergi ini, BI, perbankan dan PD Pasar, maka penyediaan uang kartal kepada masyarakat dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai dan dalam kondisi layak edar dapat terwujud lebih optimal serta dapat mewujudkan Sumut bebas uang lusuh,” kata Andiwiana.

Wakil Pimpinan BRI Kanwil Medan Timbun Hutabarat mengatakan, gerakan ini dilakukan BI sangat supaya uang yang ada di masyarakat itu menjadi layak edar. Seperti disampaikan, kualitas uang kita agak turun. Jadi dengan gerakan ini, uang yang beredar di masyarakat tidak lagi lusuh dan kualitasnya tetap terjaga,” katanya.

Para pelaku UMKM yang bertransaksi di pasar-pasar tradisional, kata Timbun, memang membuat uang cepat lusuh karena cepat berpindah tangan. Karenanya uang tidak layak edar itu ditampung dan dilakukan penukaran. Dan BI langsung turun sehingga uang tidak layak edar bisa langsung diserap.

“Di BRI sendiri, uang tidak layak edar yang diterima cukup besar. Meski selama ini kami sudah terima penukaran melalui teller, tapi dengan adanya layanan kas keliling akan memudahkan masyarakat menyetor dan menukar UTLE,” pungkasnya.(nty)