Antisipasi Peredaran Upal, Tim Ekspedisi Kas Keliling BI Sosialisasi di Pulau Rupat

BI Sumut sosialisasi Upal di Pulau Rupat.Ist

Medan | Jurnal Asia
Tim Ekspedisi Kas Keliling Kepulauan Terluar, Terdepan dan Terpencil (3T) Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah di Pulau Rupat, Riau yang juga merupakan pulau terluar di Indonesia. Sosialisasi ini untuk mengantisipasi terjadinya peredaran uang palsu (Upal).

Tim Ekspedisi Kas Keliling Kepulauan 3T yang menggunakan kapal KRI Lemadang 632 dengan Kapten Kapal Mayor Laut (P) Pungki Kurniawan.

Kepala rombongan Tim Ekspedisi, Syamsul Bakti mengatakan, kehadiran Bank Indonesia di pulau terluar ini dan memberikan sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah untuk mengantisipasi terjadinya peredaran uang palsu. Apalagi di pulau yang terletak di Selat Malaka ini sangat rawan terjadinya peredaran uang palsu.

“Pulau Rupat ini termasuk di Selat Malaka, kecenderungan terjadi peredaran uang palsu di tengah laut. Sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian rupiah kepada masyarakat terutama generasi muda, supaya dapat membedakan uang rupiah asli dan uang rupiah palsu,” katanya disela sosialisasi di SMA Negeri 1 Rupat, Senin (2/9)

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Pulau Rupat, Mimi Amriza mengungkapkan, sosialisasi ini sebagai suatu pembelajaran dan pengetahuan bagi siswa untuk membedakan uang asli dan uang palsu.

“Apalagi di sini merupakan daerah perairan, tentunya banyak dimanfaatkan untuk peredaran uang palsu. Jadi dengan adanya sosialisasi keaslian rupiah dari BI kepada kami ini, kami tidak bisa ditipu lagi dengan uang palsu,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan BI kepada SMAN 1 Rupat ini, berupa peralatan olahraga dan seni, semoga berguna dan bermanfaat bagi siswa di sekolah tersebut dan lebih semangat untuk belajar.

“Semoga BI terus maju memberikan sosialisasi tentang uang rupiah ke pulau-pulau terluar lainnya agar masyarakat lain juga tidak bisa ditipu kalau diberi uang palsu,” harapnya.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas 3 SMAN 1 Rupat, Mimi Syafitri juga mengaku, sosialisasi ini memberi pengetahuan sehingga masyarakat bisa  tahu tentang Bank Indonesia dan bisa membedakan uang rupiah yang asli dan palsu.

“Sebelumnya kita kan tak tahu, dapat uang palsu terus dibelanjakan, jadi dengan sosialisasi ini kita tak lagi bisa ditipu. Karena kita diajarkan cara melihat uang asli dengan 3D, dilihat, diraba, diterawang,” ujar Mimi Syafitri.

Mimi Syafitri mengaku di pulau tersebut sangat susah untuk mendapatkan uang yang baru, bahkan kalau belanja di kedai sering mendapatkan kembalian uang yang jelek atau lusuh.

“Kalau mau dapat yang baru harus tukar ke bank dulu, tapi kalau belanja di kedai selalu dapat uang yang jelek, ada yang koyak dan dicoret-coret. Harapan kami BI datang lagi kemari membawa uang baru dan memberikan sosialisasi ke sekolah lainnya agar mereka juga tahu membedakan uang asli dan uang palsu,” harapnya.(nty)