8,94 Persen Penduduk Sumut Tergolong Miskin

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sumut, Mukhamad Mukhanif.
Netty

Medan | Jurnal Asia
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan September 2018 menunjukkan, sebanyak 1,291 juta jiwa atau sebesar 8,94 persen terhadap total penduduk di Sumatera Utara (Sumut) tergolong miskin. Total penduduk di Sumut sekitar 14 juta jiwa.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin di Sumut mengalami penurunan dibandingkan Maret 2018. Pada periode ini jumlah penduduk miskin mencapai 1,324 juta jiwa atau 9,22 persen.

“Ada penurunan jumlah penduduk miskin di periode tersebut sekitar 33 ribu jiwa. Persentase penurunan penduduk miskin sekitar 0,28 persen,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sumut, Mukhamad Mukhanif, Jumat (1/2).

Jika dilihat dari tempat tinggal, katanya, di periode Maret 2018-September 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun 7,9 ribu jiwa dan di daerahnya turun 25,1 ribu jiwa. Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 9,15 persen menjadi 8,84 persen dan pedesaan turun 9,30 persen menjadi 9,05 persen.

“Salah satu faktor pendorong penurunan angka kemiskinan adalah dana desa. Dana ini kebanyakan untuk program padat karya yang diperuntukkan untuk masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Pada September 2018, garis kemiskinan di Sumut sekitar Rp451.673 per kapita per bulan.

“Untuk perkotaan, garis kemiskinan sebesar Rp465.790 per kapita dan pedesaan sebesar Rp435.492 per kapita per bulan,” ucapnya.

Dibanding Maret 2018, garis kemiskinan Sumut pada September 2018 naik 3,60 persen yaitu dari Rp435.970 per kapita per bulan menjadi Rp451.673 per kapita per bulan. Garis kemiskinan di perkotaan naik 3,89 persen yakni Rp448.363 per kapita per bulan menjadi Rp465.790 per kapita per bulan.

“Untuk garis kemiskinan di pedesaan naik 3,30 persen dari Rp421.586 per kapita per bulan menjadi Rp435.492 per bulan,” terangnya.

Pada September 2018, komoditi makanan yang memberikan  sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras  masih berperan sebagai penyumbang terbesar di mana perkotaan 20,73 persen sedangkan di perdesaan atau 30,39 persen.

“Empat komoditi makanan lainnya penyumbang terbesar garis kemiskinan lainnya adalah rokok kretek filter, telur ayam ras, ikan tongkol,tuna, cakalang dan gula pasir,” pungkasnya.(net)